Now Playing Tracks

THE DANCER GOES TO THE 85th ACADEMY AWARDS

It’s Official

THE DANCER will be competing in the Best Foreign Film category at the 85th Academy Awards representing Indonesia.

THE DANCER, the winner of four Piala Citra from the Indonesian Film Festival including Best Picture will be competing against more than 47 other films from around the world.

The Academy of Motion Picture Arts and Sciences will select nine films as the preliminary choice in January 2013 before five films will go on to become the nominator for the Best Foreign Film at the 85th Academy Awards.

The 85th Academy Awards will be held in the 26th of February 2013.

Menjadi Srintil & Rasus: Behind The Scene Sang Penari

Prisia Nasution and Oka Antara talks about their role as Srintil and Rasus and how to achieve the requirements from Director Ifa Isfansyah.

Wisnu Suryapratama Bicara Sang Penari

setelah mengumpulkan energi sekarang saya akan mulai bikin titwit tentang Sang Penari. sebelumnya terimakasih untuk Ifa Isfansyah atas filmnya.

1. ini film yg bagus. sebelum film ini tayang di bioskop ada sekelompok orang yang ribut kenapa judulnya Sang Penari kenapa bkn Ronggeng dll.

2. Judul Sang Penari sangat kuat karena emosi Srintil dan impiannya menari dalam konteks yg luas.

3. ambisi Srintil adalah ingin joget, menari… meluapkan emosinya dalam gerak tari. ini terlihat semakin kuat hingga ending yang dia tetap menari.

4. ada yg berkata Prisia Nasution gagal memerankan Srintil, casting ini dianggap gagal krn Prisia seperti orang Jepang yang dibikin item ditaruh di Jawa

5. pernyataan ini sah-sah saja, tp buat saya ini menunjukkan ke sok tahuan dia tentang bagaimana tampang orang Jawa. Prisia sangat pantas memainkan Srintil.

6. lalu dia bandingkan dengan Srintil di novel yg menurut dia memiliki ruh ronggeng dan penghayatan sebagai ronggeng.

7. ini kembali dia tak mengerti bahwa Srintil adlh ronggeng anyar, bukan penari berpengalaman yang jago menari.

8. tp Srintil punya passion yang kuat utk menari. tahapan dari rasa canggung di awal berubah jadi semakin menjiwai tarian bertahap sampai ending.

9. Emosi Srintil adlh emosi remaja, yang ambisius dan meledak-ledak. yang lalu jadi matang oleh hantaman trauma.

10. selain itu dia membawa beban dosa org tua yg telah meracuni warga Dukuh Paruk dan membunuh ronggeng dengan tempe bongkrek.

11. Srintil ini ababil lah di jamannya. yang butuh eksis. caranya lewat ronggeng, dan menari adalah ekstase pelepas segala kemalangan.

12. pun ketika Srintil berhasil jadi ronggeng dia terpaksa harus melayani nafsu bejat banyak lelaki bajingan *jiyaaaahhh*

13. segala hantaman kemalangan ini yang perlahan terlihat dari bagaimana Srintil menari. cermati perubahan dari pertama dia menari hingga akhir.

14.ketika dia menari di ending itulah tarian paling cantik di film Sang Penari. cuma berdua dengan Sakum. itulah tarian paling tulus dari Srintil.

15. tarian di ending adalah pelepasan semua beban Srintil. tak terikat dengan semua beban termasuk Rasus. dia telah merdeka. tariannya pun merdeka.

16. Prisia sangat berhasil menjiwai tahapan hidup Srintil. tak ada yang lebih pantas untuk jadi Srintil selain dia.

17. yang palig hebat kawan pengkritik Sang Penari bilang betapa cerobohnya ada antena tv bocor di salah satu shot. darimana anda tahu itu antena tv?

18. diseluruh pelosok Jawa itu kebanyakan orang menaruh bambu tinggi di rumahnya. bambu itu fungsinya macam-macam. bisa untuk naikin kandang burung dll

19. dan kalaupun itu dianggap antena tv yang bocor so lalu kenapa? cuma orang freak yang detail perhatiin antena tv dari sebuah shot yang cuma sekian detik.

20. ada sekian ribu bloopers dalam sekian ribu film di dunia. karena yang bikin manusia termasuk Sang Penari. kamu masih manusia kan Ifa?

21. ada juga yang bandingkan pesona Prisia dan Happy Salma sebagai ronggeng. jelas sekali ini orang ngawur.

22. aktor yg main dlm 2 -3 scene gak bisalah dibandingin dengang aktor yang main sekian ratus scene pakde!!!

23. intensitas emosi dan peran sudah beda jadi gak usah dibanding-bandingin lah. setiap individu termasuk peran punya pengalaman hidup sendiri-sendiri.

24. lalu yg luar biasa dalam film Sang Penari adalah penggunaan bahasa Jawa dialek Banyumas yang kental. memang tidak 100% tapi cukup kuat.

25. ini kehebatan para aktor di film ini yang lebur dengan dialek dan gak canggung.

26. lalu ada yg mengkritik kalau gambar di Sang Penari tak seindah gambaran di buku Ronggeng Dukuh Paruk. ini pasti orang yang kebanyakan minum minyak rem.

27.Gak mungkinlah lu bandingin gambar di film dengan penggambaran di buku tetelan kambing!!!

28. yang buku lu berimajinasi dengan penggambaran lewat kata-kata, yang film lu liat imajinasi orang lain. beda kan!!!

29. dan gambar di Sang Penari itu cantik! pas! terimakasih pak Yadi Sugandi

30. dibeberapa shot gambar di Sang Penari seolah melayang terutama shot-shot ketika Srintil menari. berasa seperti nonton ronggeng dengan sedikit mabuk ciu.

31. dan kalau anda perhatikan sepanjang film Sang ePenari langit itu kelabu, kecuali di ending. langit biru cerah. Srintil telah merdeka.

32. lalu artistik Sang Penari luar biasa. salut Pak Eros Eflin

33. dan apakah top shot anak-anak lari-lari disela-sela pepohonan itu Ifa Isfansyah banget? gw baru lihat di dua film sih Harap Tenang Ada Ujian ama Sang Penari.

34. satu tokoh yg menarik buat saya adalah Sakum, penabuh kendang yang buta.

35. perhatikan, sepanjang film cuma Sakum yang dengan tulus panggil Srintil jenganten.

36. cuma sarkum pula tokoh di film ini yang tidak mengeksploitasi Srintil. semua tokoh yang lain berebut mengeksploitasi Srintil termasuk Rasus.

37. Sakum ini adalah potret penyerahan diri org Jawa. pelayanan atas sesuatu yang amat menyentuh dia. dalam hal ini Srintil.

38. bukan Kartareja sang dukun atau istrinya yang yakin kalo Srintil kemasukan indang tapi Sakum.

39. indang itu buat Sakum menurut saya bukan roh mistis tapi passion. ketulusan dan kemauan untuk menari.

40. di salah satu dialog Sakum mengatakan bahwa yang tahu kalau indang sudah masuk ke dalam tubuh Srintil ya Srintil sendiri.

41. dan si penabuh kendang buta sejak itu selalu mengikuti srinthil. menyerahkan pelayanannya utk Sang Penari

42. dan lebih salut lagi ini adalah film pertama yg secara telanjang melihatkan pembantaian anggota PKI di penghujung 60an.

43. masuk ke tokoh rasus. Oka Antara sukses!

44. Oka berhasil memperlihatkan sisi orang kalah Rasus. dan ketika kalah orang cenderung marah terhadap kesenangan kekasihnya.

45. ketika Srintil berhasil jadi ronggeng bukan cuma Srintil secara sosok kekasih tak akan bisa dia kuasai tetapi juga dia akan semakin terpuruk karen anggapan org

46. Rasus adalah sudra, Srintil itu sang dewi… dan sebagai lelaki, dia tak mungkin bisa menguasai sang dewi.

47. dia pilih lari, dia harus jadi ksatria. makanya dia senang ditawarin jd tentara. seketika orang panggil dia pak Rasus.

48. posisi lelaki sebagai ksatria itu penting sekali dalam filsafat Jawa. anak lelaki harus bisa jadi lelananging jagad. jagoan, macho, ksatria.

49. tapi Rasus pengecut. dia punya dendam karena Srintil tak bisa dia kuasai. dia biarkan Dukuh Paruk jd merah. lalu dia tonton Dukuh Paruk hancur

50. bahkan ketika dia jadi ksatria dia tetap sub ordinat yang tak berkuasa. pion dr orang lain. dia menyesal. dia biarkan Srintil pergi, tetap menari.

51. lalu ada juga orang-orang yang permasalahkan ejaan “Tanah Oentoek Rakjat”

52. disebuah dukuh yangg gak ada yang bisa baca tulis lalu datang agitator semacam Bakar apakah anda yakin dia bisa nulis dengan ejaan yang benar.

53. lagipula tulisan itu adalah coretan di gapura bambu yang kalau kalian keliling Indonesia sekarang juga akan temukan ribuan tulisan di gapura yang salah ejaan

54. kalau tulisan itu di surat kabar misalnya baru sah kalau dikritik.

55. intinya kawan-kawan sebuah film yang bagus itu biasanya film dengan penokohan yang kuat. setiap tokoh hadir dengan motivasi kuat. Sang Penari berhasil!

56. penokohan yang kuat hadir dari skenario yang kuat. salut untuk Salman Aristo!

57.terimakasih Sang Penari, Ifa Isfansyah,  Shanty Harmayn, Yadi Sugandi, Eros Eflin, Prisia Nasution, Oka Antara, Salman Aristo, Eriek Juragan, semua kru dan aktor.

- Wisnu Suryapratama @wisnukucing

Karakter-Karakter Pendukung: Behind The Scene Sang Penari 

Slamet Rahardjo, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Dewi Irawan and Tio Pakusadewo talks about the characters they played.

Ifa Isfansyah Director’s Production Note

Ditawarin menyutradarai Sang Penari saat bertemu Shanty Harmayn di Pusan Film Festival 2008, beberapa saat sebelum syuting Garuda Di Dadaku.

Langsung saya terima, saya tidak menemukan satupun alasan untuk menolak mengerjakan film ini. Walaupun banyak yg bilang buat saya ini “Project Bunuh Diri”.

Dua tahun pertama development project ini saya merasa ini beban buat saya. Justru setelah mengalami masalah yg berulang-ulang saya baru merasa sangat tenang menjalani project ini.

Development cerita bersama Salman Aristo, Shanty Harmayn, Abduh Aziz dan Michael membuat saya lebih percaya diri. Semua secara presisi berperan di wilayahnya masing-masing.

Setahun setelah pengembangan project ini, kami memutuskan untuk menulis skenario film ini bertiga: Salman Aristo, Saya, Shanty Harmayn.

Salman Aristo sangat tahu bagaimana mengubah konteks novel yg rumit dan berat menjadi sebuah struktur cerita film yg ringan dan komunikatif.

Selain treatment penyutradaraan di script, saya memberi konteks culture dan detail karena saya hidup berpuluh2 tahun dalam budaya yang sama dengan cerita.

Shanty Harmayn punya energi yang lebih mengendap dari kita berdua, ia menjaga agar film ini tetap mempunyai energi besar tapi tidak sombong, dan juga tidak terlalu laki-laki.

Ibarat mobil, bisa dibilang dalam penulisan itu Salman Aristo adalah akselerasi, Saya adalah gas dan Shanty Harmayn berperan sebagai rem.

Sebelum proses penulisan sempat bertemu Ahmad Tohari. Dan beliau sangat membebaskan novelnya diintrepretasi dr sudut pandang yg berbeda sekalipun. Beliau hanya berpesan: jangan diniati untuk mencari kontroversi.

Dalam prosesnya saya pernah membuat versi pendek dari film ini, berdurasi 15 menit berjudul “Lintang Kemukus Dini Hari”

Saya orang yg paling bertanggung jawab saat ada beberapa orang hebat di film pendek itu yg akhirnya tidak bisa terlibat di Sang Penari. Itu semua kesalahan saya karena proses terjadi di masa-masa kegalauan saya di project ini.

Bersamaan dengan proses penulisan skenario, puluhan treatment dan konsep penyutradaraan bersliweran di kepala saya. Dan saya belom menemukan konsep mana yang tepat untuk mengeksekusi cerita ini.

Tapi itu justru membuat selama bertahun-tahun saya menyikapi project ini secara organik. Setelah proses yang lama, saya merasa project ini hidup, ia tumbuh dan tinggal saya jaga dan ikuti arahnya mau kemana. Dan itu efektif, saya merasa lebih jujur.

Project ini memang mempunyai apa yang project lain tidak punya: waktu.

Selama mengerjakan film ini, saya selalu terngiang-ngiang pesan Riri Riza: ‘Project ini punya potensi untuk membuat kamu lompat naik kelas beberapa tingkat..jadi kalo kamu cuman naik kelas satu tingkat, itu gagal’.

Pada akhirnya film ini justru saya kerjakan dengan metode penyutradaraan yang paling sederhana dari semua metode yang saya tahu: Basic. Saya menantang semuanya untuk kembali ke basic, kembali ke dasar dari potensi semua orang yg terlibat di project ini. Dan hal ini tidak pernah saya bayangkan, sebelumnya saya merasa film ini harus dikerjakan dengan tuntutan teknis yang sangat tinggi dan rumit.

Konsep itu saya lakukan juga karena saya sadar saya bekerja diantara orang-orang yang tidak sedang dalam taraf ingin membuktikan sesuatu.

Karena saya sadar bahwa saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Di film ini saya hanya fokus ke satu hal: acting!

Karena proses yang cukup. Saya harus membuat semua orang yg bermain di film ini tidak hanya berperan, tapi menjadi.

Walaupun berat di proses, tapi karena ‘menjadi’ itulah saya merasa sangat nyaman pada saat eksekusi. Pemain-pemain saya lebih tau apa yag seharusnya mereka lakukan, karena mereka adalah karakter di film itu dan saya hanyalah penonton.

Dalam sebuah scene, kadang saya yang justru bertanya pada mereka apa yg akan mereka lakukan kalo ada situasi semacam ini, di ruang seperti ini.

Yang paling berat dalam sebuah proses yang panjang seperti ini adalah menjaga energi dan konsentrasi. Pada saat syuting hanya 3 hal yg saya lakukan: keluar kamar, syuting, masuk kamar.

Di saat2 seperti ini saya sudah tidak bisa menilai film ini baik atau buruk. Tapi yg saya yakin saya sudah membuat sebuah film yang saya suka dengan proses yang berusaha menghormati medium ini.

Energi saya habis untuk film ini. Yang saya perlukan saat ini adalah mengisi kembali energi saya dengan feedback dari penonton2 film ini, positif atau negatif. Setelah film ini menyedot energi saya, sekarang saatnya ia mengembalikan energi yang lebih besar ke saya untuk proses selanjutnya.

If I am still capable of being angry seeing rampant corruption or children whose school buildings are broken, or my neighbors who cannot get to the doctor… If I still can get mad at the government, legislators, the President, that means I still have fuel [to write]
Ahmad Tohari for The Jakarta Post

Sebuah Proses Mahakarya: Behind The Scene Sang Penari

Director Ifa Isfansyah and Art Director Eros Eflin talks about the vision, process and challenges in bringing Dukuh Paruh and its 1965 settings on screen.

We make Tumblr themes