”Sang Penari, keren. Selamat buat Ifa Isfansah & Salman Aristo. Tentu saja, Sang Penari beda dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari). Dengan arif, filmnya mengaku “terilhami”. Tapi, semangat novelnya terasa di filmnya: Sang Penari menatap kelahiran Orba dari sebuah dunia dukuh yang miskin. Dalam memandang masa kelam kelahiran Orba itu, Sang Penari setia pd persoalan Srintil-Rasus, dan kampung mereka. Sang Penari sempat juga membuat saya was-was, soal sudut pandang: masihkah pandang PKI sbg hantu, dan ABRI sbg penyelamat? Syukur, tidak.”
Hikmat Darmawan
