Now Playing Tracks

Ifa Isfansyah Director’s Production Note

Ditawarin menyutradarai Sang Penari saat bertemu Shanty Harmayn di Pusan Film Festival 2008, beberapa saat sebelum syuting Garuda Di Dadaku.

Langsung saya terima, saya tidak menemukan satupun alasan untuk menolak mengerjakan film ini. Walaupun banyak yg bilang buat saya ini “Project Bunuh Diri”.

Dua tahun pertama development project ini saya merasa ini beban buat saya. Justru setelah mengalami masalah yg berulang-ulang saya baru merasa sangat tenang menjalani project ini.

Development cerita bersama Salman Aristo, Shanty Harmayn, Abduh Aziz dan Michael membuat saya lebih percaya diri. Semua secara presisi berperan di wilayahnya masing-masing.

Setahun setelah pengembangan project ini, kami memutuskan untuk menulis skenario film ini bertiga: Salman Aristo, Saya, Shanty Harmayn.

Salman Aristo sangat tahu bagaimana mengubah konteks novel yg rumit dan berat menjadi sebuah struktur cerita film yg ringan dan komunikatif.

Selain treatment penyutradaraan di script, saya memberi konteks culture dan detail karena saya hidup berpuluh2 tahun dalam budaya yang sama dengan cerita.

Shanty Harmayn punya energi yang lebih mengendap dari kita berdua, ia menjaga agar film ini tetap mempunyai energi besar tapi tidak sombong, dan juga tidak terlalu laki-laki.

Ibarat mobil, bisa dibilang dalam penulisan itu Salman Aristo adalah akselerasi, Saya adalah gas dan Shanty Harmayn berperan sebagai rem.

Sebelum proses penulisan sempat bertemu Ahmad Tohari. Dan beliau sangat membebaskan novelnya diintrepretasi dr sudut pandang yg berbeda sekalipun. Beliau hanya berpesan: jangan diniati untuk mencari kontroversi.

Dalam prosesnya saya pernah membuat versi pendek dari film ini, berdurasi 15 menit berjudul “Lintang Kemukus Dini Hari”

Saya orang yg paling bertanggung jawab saat ada beberapa orang hebat di film pendek itu yg akhirnya tidak bisa terlibat di Sang Penari. Itu semua kesalahan saya karena proses terjadi di masa-masa kegalauan saya di project ini.

Bersamaan dengan proses penulisan skenario, puluhan treatment dan konsep penyutradaraan bersliweran di kepala saya. Dan saya belom menemukan konsep mana yang tepat untuk mengeksekusi cerita ini.

Tapi itu justru membuat selama bertahun-tahun saya menyikapi project ini secara organik. Setelah proses yang lama, saya merasa project ini hidup, ia tumbuh dan tinggal saya jaga dan ikuti arahnya mau kemana. Dan itu efektif, saya merasa lebih jujur.

Project ini memang mempunyai apa yang project lain tidak punya: waktu.

Selama mengerjakan film ini, saya selalu terngiang-ngiang pesan Riri Riza: ‘Project ini punya potensi untuk membuat kamu lompat naik kelas beberapa tingkat..jadi kalo kamu cuman naik kelas satu tingkat, itu gagal’.

Pada akhirnya film ini justru saya kerjakan dengan metode penyutradaraan yang paling sederhana dari semua metode yang saya tahu: Basic. Saya menantang semuanya untuk kembali ke basic, kembali ke dasar dari potensi semua orang yg terlibat di project ini. Dan hal ini tidak pernah saya bayangkan, sebelumnya saya merasa film ini harus dikerjakan dengan tuntutan teknis yang sangat tinggi dan rumit.

Konsep itu saya lakukan juga karena saya sadar saya bekerja diantara orang-orang yang tidak sedang dalam taraf ingin membuktikan sesuatu.

Karena saya sadar bahwa saya dikelilingi orang-orang yang tepat. Di film ini saya hanya fokus ke satu hal: acting!

Karena proses yang cukup. Saya harus membuat semua orang yg bermain di film ini tidak hanya berperan, tapi menjadi.

Walaupun berat di proses, tapi karena ‘menjadi’ itulah saya merasa sangat nyaman pada saat eksekusi. Pemain-pemain saya lebih tau apa yag seharusnya mereka lakukan, karena mereka adalah karakter di film itu dan saya hanyalah penonton.

Dalam sebuah scene, kadang saya yang justru bertanya pada mereka apa yg akan mereka lakukan kalo ada situasi semacam ini, di ruang seperti ini.

Yang paling berat dalam sebuah proses yang panjang seperti ini adalah menjaga energi dan konsentrasi. Pada saat syuting hanya 3 hal yg saya lakukan: keluar kamar, syuting, masuk kamar.

Di saat2 seperti ini saya sudah tidak bisa menilai film ini baik atau buruk. Tapi yg saya yakin saya sudah membuat sebuah film yang saya suka dengan proses yang berusaha menghormati medium ini.

Energi saya habis untuk film ini. Yang saya perlukan saat ini adalah mengisi kembali energi saya dengan feedback dari penonton2 film ini, positif atau negatif. Setelah film ini menyedot energi saya, sekarang saatnya ia mengembalikan energi yang lebih besar ke saya untuk proses selanjutnya.

1 note

  1. superbeler reblogged this from sang-penari
  2. sang-penari posted this
We make Tumblr themes